Selasa, 06 Mei 2025

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN


Lingkungan :

Merupa Kesatuan ruang dengan semua benda, daya dan keadaan mahluk hidup termasuk perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhlukhidup lain

 Keseimbangan Lingkungan

Jika komponen biotik berada pada komposisi  yang proposional antar tingkat trofik dengan komponen abiotik yang mendukung kehidupan komponen biotik

Contoh: Hutan

Daya dukung lingkungan

Kemampuan suatu lingkungan untuk mendukung kelangsungan hidup mahluk hidup dengan adanya ketersediaan makanan

Contoh:

Hutan mendukung kelangsungan hidup harimau dengan adanya hewan mangsa

 

Daya lenting lingkungan

 Kemampuan lingkungan untuk pulih kembali pada keadaan seimbang jika mengalami perubahan/ gangguan

 

Pencemaran

 Perubahan yang tidak diinginkan pada lingkungan

Meliputi:

·      Pencemaran udara

·      Pencemaran tanah

·      Pencemaran air

 

Istilah-istilah yang berhubungan dengan pencemaran

 ·      Limbah

 Benda/ zat yang mengandung berbagai bahan yang membahayakan manusia, hewan dan mahluk hidup lain

 ·      Polutan

 MH/zat/energy/ komponen yang  menyebabkan pencemaran

 Macam-macam polutan

·     
Polutan Biologi                          Bakteri, sampah

·     
Polutan zat kimia                       Hg,CO2, CFC, debu asbes, pestisida

·     
Pencemaran energy/fisik           panas, radiasi

 

A.      PENCEMARAN UDARA

Jenis Polutan dan asalnya

 1.    CO(karbondioksida)

·      Penggunaan bahan bakar fosil

·      Respirasi

·      Pembusukan

 

2.    SO2 dan NO

·      Pemakaian bahan bakar fosil

·      Gas kendaraan bermotor

·      CO (karbon monoksida)

·      Pemakain bahan bakar fosil

·      Pembakaran tak sempurna pada kendaraan   bermotor

 

3.    CFC (Chloro Fluor Carbon)

·      Pendingin ruangan

·      Lemari es

·      Penyemprot  aerosol

 

Karakteristik zat

1.    CO

Ø  Tidak berbau, berasa dan berwarna

Ø  Tidak stabil

Ø  Brasal dari pembakaran yang tak sempurna

Ø  Mudah berikatan dengan Hb mengakibatkan kekurangan oksigen

 

Hujan asam

Ø  Hasil pembakaran kendaraan bermotor

Ø  Penyebab: SO2 dan NO2

Ø  Reaksi

 


                2SO2 + O2                                   2 SO3


                SO3 + H2O                            H2SO4

 

Efek:

·      Merusak tumbuhan/hutan dll

·      Berkaratnya benda-benda logam

·      Penurunan pH tanah dan air

 

Green House Effect

Ø  Peningkatan suhu bumi karena meningkatnya kadar CO2 di atmosfer

Ø  Akibat: Global warming

Ø  Mencairnya es di daerah kutub

Ø  Naiknya permukan air laut

Ø  Tenggelamnya kota-kota tepi pantai

 




Penipisan lapisan ozon

Ø  Ozon terdapat pada lapsan stratosfer

Ø  Menahan 99% radiasi ultraviolet

Ø  Penyebab: CFC

Dampak:

·      Gangguan kesehatah: kanker kulit, katarak

·      Kerusakan tanaman budidaya

 

B.      PENCEMARAN TANAH

Sumber

·      Limbah rumah tangga

      Plastik, kaleng dll

·      Limbah pertanian

      Pupuk buatan, pestisida

 

C.      PENCEMARAN AIR

Sumber

·      Limbah rumah tangga

      Deterjen, sampah     bakteri

·      Limbah industry

      Hg,Pb,Cr,Cu,Zn,Ni

·      Limbah pertanian

      Pupuk buatan, pestisida

 

Efek: Eutrofikasi

 ·      Limbah pertambangan

Ø  Pencemaran minyak

  

D.      PENCEMARAN SUARA

Ø  Intensitas bunyi > 50 dB

Sumber:

            Mesin industry, kendaraan bermotor, pesawat terbang

 

Parameter Kualitas Limbah

·      BOD ( Biochemical Oxygen Demand )

      Ukuran kandungan O2 yang diperlukan oleh   mikroorganisme dalam air untuk               menguraikan bahan organik

 

BOD= O2 terlarut awal – O2 terlarut akhir

 ·      COD ( chemical Oksigen Demand )

Jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia

 ·      DO ( Dissolved Oxygen )

      Kadar oksigen terlarut dalam air

 ·      pH

ukuran keasaman/ kebasaan limbah

pH netral 6,5 – 7,5

 

Penanganan Limbah

 limbah Organik

·      makanan ternak

·      kompos

·      biogas

 

limbah Anorganik:

·      sanitary Landfill

·      pembakaran dalam incinerator (incineration)

·      penghancuran ( Pulverisation )

·      Daur ulang


Rabu, 06 November 2024

SISTEM GERAK


Sistem gerak terdiri dari 2 organ :

1. Rangka/skeleton (sebagai alat gerak pasif)

2. Otot (sebagai alat gerak aktif)

Rangka/skeleton :

1. Endoskeleton yaitu rangka berada di dalam contohnya manusia dan hewan hewan vertebrata

2. Eksoskeleton yaitu rangka yang berada di luar contohnya berbagai serangga, udang, lipan, remis, nautilus dsb.


Fungsi Rangka Manusia 

Rangka manusia memiliki beberapa fungsi penting yang berperan dalam mendukung, melindungi, dan memungkinkan tubuh untuk bergerak serta menjalankan fungsi-fungsi vital. Berikut adalah fungsi utama rangka manusia:

  1. Memberikan Struktur dan Bentuk Tubuh
    Rangka memberikan bentuk dan struktur dasar pada tubuh. Tanpa rangka, tubuh manusia tidak akan memiliki bentuk yang jelas dan tidak bisa berdiri tegak. Setiap tulang membentuk bagian tertentu, seperti tengkorak untuk kepala, tulang belakang untuk tubuh, dan rangka anggota gerak untuk lengan dan kaki.

  2. Melindungi Organ Vital
    Rangka melindungi organ-organ dalam tubuh dari cedera dan benturan. Contohnya:

    • Tengkorak melindungi otak.
    • Tulang rusuk dan tulang dada melindungi jantung dan paru-paru.
    • Tulang belakang (vertebrae) melindungi sumsum tulang belakang.
    • Tulang panggul melindungi organ dalam di rongga panggul.
  3. Menyediakan Tempat Perlekatan Otot
    Otot melekat pada tulang melalui tendon, dan ketika otot berkontraksi, mereka menarik tulang untuk menghasilkan gerakan. Hal ini memungkinkan tubuh untuk melakukan berbagai gerakan, seperti berjalan, berlari, duduk, dan menggenggam.

  4. Menyimpan Mineral
    Tulang berfungsi sebagai penyimpan utama mineral seperti kalsium dan fosfat. Mineral ini dapat dilepaskan ke dalam aliran darah sesuai kebutuhan tubuh, sehingga membantu menjaga keseimbangan mineral dalam tubuh.

  5. Produksi Sel Darah (Hematopoiesis)
    Sumsum tulang merah, yang terdapat dalam rongga tulang tertentu seperti tulang paha, tulang belakang, dan tulang rusuk, berfungsi untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Proses ini sangat penting untuk menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh dan sirkulasi darah.

  6. Menyimpan Lemak
    Sumsum tulang kuning, yang ditemukan di rongga medula tulang panjang, berfungsi sebagai tempat penyimpanan lemak dalam bentuk trigliserida. Lemak ini dapat digunakan sebagai cadangan energi oleh tubuh.

  7. Mendukung Pergerakan Tubuh
    Tulang-tulang bekerja bersama dengan otot, tendon, dan ligamen untuk menghasilkan gerakan. Sendi-sendi yang menghubungkan tulang juga memungkinkan tubuh untuk bergerak dengan cara yang fleksibel, seperti membungkuk, memutar, atau mengangkat.

  8. Mengatur Keseimbangan Asam-Basa
    Tulang dapat menyerap atau melepaskan garam alkali (basa) ke dalam aliran darah untuk membantu menjaga keseimbangan pH tubuh, yang penting bagi berbagai proses fisiologis


Rangka manusia terdiri dari rangka aksial dan rangka apendikular 

1. Rangka Aksial

Rangka aksial adalah rangka yang berada di bagian tengah atau poros tubuh manusia. Rangka ini berfungsi untuk melindungi organ-organ vital dan menopang tubuh bagian atas serta bawah. Bagian-bagian dari rangka aksial meliputi:

  • Tengkorak: Melindungi otak dan terdiri dari beberapa tulang : tulang ubun-ubun, tulang dahi, tulang air mata,, tuang hidung, tulang pipi, tuang rahang atas, tulang rahang bawah,, tulang langit langit, tulang pelipis, tulang baji, tuang kepala bagian belakang.

  • Tulang Telinga Tengah: Termasuk tiga tulang kecil, yaitu tulang martil (malleus), landasan (incus), dan sanggurdi (stapes), yang berfungsi dalam proses pendengaran.

  • Tulang Hyoid: Terletak di bawah rahang bawah dan berfungsi sebagai tempat perlekatan otot-otot lidah dan tenggorokan.

  • Tulang Belakang (Vertebrae): Tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang dan terdiri dari 33 ruas tulang yang dibagi menjadi lima bagian:

    • Servikal (7 tulang) – di leher
    • Torakal (12 tulang) – di punggung atas
    • Lumbal (5 tulang) – di punggung bawah (pinggang)
    • Sakrum (5 tulang menyatu) – di daerah panggul/kelangkang
    • Koksigis (4 tulang menyatu) – atau tulang ekor
  • Tulang Dada (Sternum): Merupakan tulang pipih yang terletak di bagian tengah dada dan berfungsi melindungi jantung dan paru-paru. terdiri dari bagian hulu bagian badan dan taju pedang.

  • Tulang Rusuk (Costae): Terdiri dari 12 pasang tulang yang melindungi organ-organ vital dalam rongga dada, seperti jantung dan paru-paru. Tulang rusuk terdiri dari:

    • Tulang rusuk sejati (7 pasang) – langsung menempel pada sternum/tulang dada.
    • Tulang rusuk palsu (3 pasang) – menempel pada tulang rusuk di atasnya.
    • Tulang rusuk melayang (2 pasang) – tidak terhubung dengan sternum.

2. Rangka Apendikular

Rangka apendikular adalah rangka yang berada di bagian tepi tubuh dan berfungsi untuk membantu pergerakan serta menjadi tempat perlekatan otot-otot tubuh (rangka penyusun anggota gerak). 

Bagian-bagian dari rangka apendikular meliputi:

  • Tulang Anggota Gerak Atas (Ekstremitas Atas/tungkai atas): Meliputi tulang-tulang di lengan dan tangan, yang terdiri dari:

    • Korset Bahu (Pectoral Girdle): terdiri dari tulang klavikula (selangka) dan tulang skapula (belikat).
    • Lengan atas: terdiri dari tulang humerus.
    • Lengan bawah: terdiri dari tulang radius/hasta (sebelah luar) dan ulna/pengumpil (sebelah dalam).
    • Pergelangan tangan (Carpal): terdiri dari 8 tulang kecil.
    • Telapak tangan (Metacarpal): terdiri dari 5 tulang.
    • Jari tangan (Phalanges): terdiri dari 14 tulang.
  • Tulang Anggota Gerak Bawah (Ekstremitas Bawah/tungkai bawah): Meliputi tulang-tulang di kaki dan pergelangan kaki, yang terdiri dari:

    • Korset Panggul (Pelvic Girdle): terdiri dari tulang pelvis (tulang panggul), yang meliputi ilium/tuang usus, ischium/tulang duduk, dan pubis/tullang kemaluan.
    • Paha: terdiri dari tulang femur, tulang terbesar dan terkuat dalam tubuh.
    • Lutut: terdapat tulang patella (tempurung lutut).
    • Betis: terdiri dari tulang tibia/tuang kering (sebelah dalam) dan fibula/tulang betis (sebelah luar).
    • Pergelangan kaki (Tarsal): terdiri dari 7 tulang kecil.
    • Telapak kaki (Metatarsal): terdiri dari 5 tulang.
    • Jari kaki (Phalanges): terdiri dari 14 tulang.

Fungsi Rangka Aksial dan Rangka Apendikular

  • Rangka Aksial: Berfungsi sebagai penopang utama dan pelindung organ-organ vital, seperti otak, jantung, dan paru-paru.
  • Rangka Apendikular: Berfungsi untuk memfasilitasi pergerakan, menjadi tempat melekatnya otot, dan memberikan fleksibilitas dalam aktivitas sehari-hari.



Gambar Tulang Rangka



Gambar Tulang Tengkorak


Gambar Tulang Rusuk dan Tulang Dada



Gambar Tulang Belakang


Macam-Macam Tulang

1. Berdasarkan Bentuknya

  • Tulang Panjang (Ossa Longa)
    Tulang panjang memiliki bentuk yang lebih panjang daripada lebarnya dan biasanya ditemukan pada anggota gerak. Tulang panjang berfungsi sebagai pengungkit dan mendukung pergerakan. Contoh: tulang paha (femur), tulang lengan atas (humerus), tulang kering (tibia), dan tulang hasta (ulna).

  • Tulang Pendek (Ossa Brevia)
    Tulang pendek memiliki bentuk yang pendek dan hampir kuboid, yaitu panjang, lebar, dan ketebalannya hampir sama. Tulang ini biasanya terdapat di area yang memerlukan stabilitas dan fleksibilitas. Contoh: tulang pergelangan tangan (karpal) dan tulang pergelangan kaki (tarsal).

  • Tulang Pipih (Ossa Plana)
    Tulang pipih berbentuk tipis dan lebar, berfungsi untuk melindungi organ tubuh dan sebagai tempat perlekatan otot. Contoh: tulang tengkorak (seperti tulang frontal dan parietal), tulang belikat (skapula), dan tulang dada (sternum).

  • Tulang Tidak Beraturan (Ossa Irregularia)
    Tulang tidak beraturan memiliki bentuk yang kompleks dan tidak termasuk dalam kategori panjang, pendek, atau pipih. Tulang ini berfungsi melindungi organ tertentu dan sering menjadi tempat perlekatan otot. Contoh: tulang belakang (vertebra) dan tulang panggul.

  • Tulang Sesamoid
    Tulang sesamoid adalah tulang kecil berbentuk bulat yang terletak di dalam tendon dan melindungi tendon dari tekanan dan gesekan. Contoh: tempurung lutut (patella).

2. Berdasarkan Strukturnya

  • Tulang Kompak (Keras)
    Tulang kompak memiliki struktur yang padat dan keras, serta membentuk lapisan luar tulang. Struktur ini memberikan kekuatan dan ketahanan pada tulang serta berfungsi untuk menopang tubuh. Tulang panjang umumnya memiliki lapisan kompak di bagian luarnya.

  • Tulang Spons (Spongiosa)
    Tulang spons memiliki struktur yang berongga atau berpori, menyerupai spons. Rongga ini berisi sumsum tulang merah, yang berperan dalam produksi sel darah. Tulang spons biasanya terdapat di ujung tulang panjang dan di dalam tulang pipih.Komposisi. Berikut penjelasan lengkapnya:

3. Berdasarkan zat penyusunnya 

  * Tulang Kartilago (Tulang Rawan)

  • Pengertian: Tulang kartilago adalah jaringan ikat elastis yang lebih lembut dan fleksibel daripada tulang keras. Tulang ini tidak memiliki pembuluh darah, sehingga nutrisinya diperoleh melalui difusi dari jaringan sekitarnya.
  • Komposisi: Tulang rawan tersusun atas sel-sel kondrosit yang dikelilingi oleh matriks berisi kolagen, protein, dan air. Matriks ini membuat tulang rawan lebih lentur.
  • Jenis:
    • Hyalin: Paling umum, ditemukan pada ujung tulang panjang, ujung tulang rusuk, laring, dan trakea.
    • Fibrokartilago: Lebih kuat dan ditemukan di cakram antarvertebra, meniskus, dan simfisis pubis.
    • Kartilago Elastis: Lebih fleksibel, terdapat pada telinga luar dan epiglotis.
  • Fungsi:
    • Memberikan fleksibilitas dan bantalan pada sendi.
    • Membentuk kerangka dasar yang nantinya akan mengeras menjadi tulang sejati pada beberapa bagian tubuh.
    • Menyerap tekanan dan mencegah gesekan antara tulang di sendi.
  • Contoh Lokasi: Ujung tulang panjang, tulang rusuk, telinga luar, hidung, dan cakram antarvertebra.

  * Tulang Keras (Tulang Sejati/Osteon)

  • Pengertian: Tulang keras atau tulang sejati adalah jaringan tulang yang padat, kuat, dan kaku, serta menjadi bagian utama rangka manusia. Tulang ini berfungsi sebagai penopang utama tubuh.
  • Komposisi: Tulang keras tersusun atas osteosit (sel tulang) yang berada dalam matriks keras berisi kalsium fosfat dan kolagen, yang memberikan kekuatan dan ketahanan pada tulang.
  • Struktur:
    • Tulang Kompak: Bagian luar yang padat dan keras, memberikan kekuatan struktural dan perlindungan.
    • Tulang Spons: Bagian dalam yang berongga dan berisi sumsum tulang, berfungsi dalam produksi sel darah dan sebagai tempat penyimpanan lemak.
  • Fungsi:
    • Menyokong dan menjaga bentuk tubuh.
    • Melindungi organ vital, seperti otak (dalam tengkorak) dan jantung (dalam rongga dada).
    • Menyediakan tempat perlekatan otot dan memungkinkan pergerakan tubuh.
    • Menyimpan mineral, terutama kalsium dan fosfat.
  • Contoh Lokasi: Tulang panjang seperti femur (tulang paha), tulang humerus (lengan atas), tulang tengkorak, tulang rusuk, dan tulang belakang.

Perbedaan utama antara tulang kartilago dan tulang keras adalah bahwa tulang kartilago lebih fleksibel dan tidak memiliki pembuluh darah, sedangkan tulang keras lebih kuat, padat, dan memiliki pembuluh darah serta saraf.


PERSENDIAN/ARTIKULASI

Persendian atau artikulasi adalah hubungan antara dua atau lebih tulang. Berdasarkan pergerakannya, persendian dibagi menjadi tiga jenis utama: sinartrosis, amfiartrosis, dan diartrosis. Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis persendian:

1. Sinartrosis (Sendi Tidak Bergerak/Sendi Mati)

  • Pengertian: Sinartrosis adalah persendian yang tidak memungkinkan adanya pergerakan sama sekali. Tulang-tulang yang terhubung dalam persendian ini menyatu atau berfusi secara kuat.
  • Struktur: Pada sinartrosis, tulang-tulang biasanya dihubungkan oleh jaringan ikat fibrosa atau tulang rawan yang keras, sehingga tidak ada ruang gerak antara tulang.
  • Contoh Lokasi:
    • Sutura pada tulang tengkorak, di mana tulang-tulang tengkorak menyatu untuk melindungi otak.
    • Sendi gomfosis pada gigi yang tertanam di dalam rahang.

2. Amfiartrosis (Sendi Gerak Terbatas/Sendi Kaku)

  • Pengertian: Amfiartrosis adalah persendian yang memungkinkan sedikit pergerakan, tetapi tidak terlalu bebas. Sendi ini memberikan stabilitas sambil tetap memungkinkan sedikit fleksibilitas.
  • Struktur: Pada amfiartrosis, tulang-tulang dihubungkan oleh tulang rawan atau jaringan fibrosa yang cukup kuat namun masih memungkinkan gerakan terbatas.
  • Contoh Lokasi:
    • Sendi simfisis pubis di antara tulang-tulang panggul. Sendi ini berfungsi untuk memberi fleksibilitas saat melahirkan pada wanita.
    • Sendi antarvertebra pada tulang belakang. Cakram tulang rawan di antara vertebra memberikan sedikit pergerakan dan fleksibilitas pada tulang belakang.

3. Diartrosis (Sendi Gerak)

  • Pengertian: Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan pergerakan bebas dan disebut juga sendi sinovial. Ini adalah tipe sendi yang paling banyak dan fleksibel di tubuh.
  • Struktur: Pada diartrosis, ujung-ujung tulang dilapisi oleh tulang rawan artikular dan dipisahkan oleh rongga sinovial yang berisi cairan sinovial. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas, yang memungkinkan gerakan tulang yang halus dan mengurangi gesekan.
  • Jenis Sendi Sinovial (Diartrosis):
    • Sendi Peluru: Memungkinkan gerakan dalam semua arah, termasuk rotasi. Contoh: sendi bahu dan sendi panggul.
    • Sendi Engsel: Memungkinkan gerakan satu arah, seperti engsel pintu. Contoh: sendi siku dan sendi lutut.
    • Sendi Putar: Memungkinkan gerakan rotasi. Contoh: sendi antara tulang tengkorak dan tulang leher (atlas dan aksis).
    • Sendi Pelana: Memungkinkan gerakan dua arah (ke depan-belakang dan ke samping). Contoh: sendi pada pangkal ibu jari.
    • Sendi Geser: Memungkinkan gerakan geser atau meluncur antara tulang. Contoh: sendi antara tulang-tulang pergelangan tangan (karpal).
    • Sendi Elipsoid: Memungkinkan gerakan ke depan-belakang dan ke samping, tetapi tidak rotasi. Contoh: sendi pergelangan tangan (antara radius dan karpal).

Ketiga jenis persendian ini memberikan tubuh keseimbangan antara stabilitas dan fleksibilitas, memungkinkan kita melakukan berbagai aktivitas fisik, mulai dari berdiri diam hingga bergerak bebas


Gambar Sendi Gerak/Diartrosis


GANGGUAN PADA TULANG/RANGKA

Gangguan kelainan pada tulang atau rangka
1. Osteopporosis
  • Pengertian: Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi rapuh dan mudah patah akibat penurunan massa tulang.
  • Penyebab: Kekurangan kalsium, vitamin D, kurangnya aktivitas fisik, atau perubahan hormonal (terutama pada wanita setelah menopause).
  • Dampak: Meningkatkan risiko patah tulang, terutama pada pergelangan tangan, tulang belakang, dan panggul.

2. Osteoartritis (Radang Sendi)

  • Pengertian: Osteoartritis adalah peradangan pada sendi akibat kerusakan pada tulang rawan sendi.
  • Penyebab: Usia, cedera pada sendi, obesitas, atau tekanan berlebih pada sendi.
  • Dampak: Nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan gerakan pada sendi.

3. Rakitis

  • Pengertian: Rakitis adalah kelainan pada pertumbuhan tulang pada anak-anak yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan bengkok.
  • Penyebab: Kekurangan vitamin D, kalsium, atau fosfat.
  • Dampak: Tulang kaki bisa tampak bengkok ke luar atau ke dalam.

4. Skoliosis

  • Pengertian: Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping.
  • Penyebab: Bisa disebabkan oleh faktor genetik, kelainan lahir, atau cedera.
  • Dampak: Mengakibatkan ketidakseimbangan pada tubuh, nyeri punggung, dan gangguan postur.

5. Kifosis

  • Pengertian: Kifosis adalah kelainan yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke depan, sehingga punggung terlihat bungkuk.
  • Penyebab: Osteoporosis, kelainan bawaan, atau postur yang buruk.
  • Dampak: Nyeri punggung, gangguan pernapasan, dan perubahan penampilan.

6. Lordosis

  • Pengertian: Lordosis adalah kelainan yang menyebabkan lengkungan berlebihan pada tulang belakang bagian bawah.
  • Penyebab: Kelebihan berat badan, kelemahan otot perut, atau masalah struktural pada tulang belakang.
  • Dampak: Nyeri punggung bawah, gangguan postur, dan ketidaknyamanan saat berdiri lama.

7. Fraktura (Patah Tulang)

  • Pengertian: Fraktura adalah kondisi di mana tulang patah atau terbelah secara total atau sebagian. Fraktura dapat terjadi karena benturan keras, tekanan berlebih, atau cedera.
  • Jenis Fraktura: Tergantung pada bagaimana tulang patah, fraktura dapat dibagi menjadi berbagai jenis, seperti:
    • Fraktura terbuka (kompleks): Ketika tulang patah menembus kulit dan menyebabkan luka terbuka.
    • Fraktura tertutup (sederhana): Ketika tulang patah tetapi tidak menembus kulit.
    • Fraktura kominutif: Ketika tulang patah menjadi beberapa bagian kecil.
    • Fraktura transversal, spiral, atau lainnya: Bergantung pada arah patahan tulang.
  • Penyebab: Cedera berat, kecelakaan, atau kondisi medis tertentu seperti osteoporosis yang membuat tulang lebih rapuh.
  • Gejala: Nyeri hebat, deformitas pada lokasi tulang yang patah, pembengkakan, memar, dan ketidakmampuan untuk bergerak atau menggunakan anggota tubuh yang terpengaruh.
  • Perawatan: Perawatan biasanya melibatkan pengaturan tulang kembali pada posisinya (reduksi), dan kemudian imobilisasi menggunakan gips atau alat penyangga. Pada kasus yang lebih parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki tulang yang patah.

8. Fisura (Retakan Tulang)

  • Pengertian: Fisura adalah kondisi di mana tulang mengalami retakan atau keretakan ringan, tetapi tulang tidak terpisah sepenuhnya seperti pada fraktura. Fisura biasanya terjadi pada bagian luar tulang dan tidak melibatkan pemisahan besar atau kehilangan integritas tulang secara keseluruhan.
  • Jenis Fisura: Fisura lebih ringan dibandingkan fraktura dan dapat terjadi pada lapisan luar tulang. Biasanya fisura disebut juga sebagai retakan rambut (hairline fracture).
  • Penyebab: Fisura bisa terjadi akibat trauma ringan, beban berulang, atau tekanan yang tidak terlalu kuat pada tulang, seperti pada olahraga intensif atau kecelakaan ringan.
  • Gejala: Nyeri lokal di area yang retak, pembengkakan ringan, dan terkadang ada ketidaknyamanan saat menggunakan anggota tubuh yang terpengaruh. Fisura cenderung tidak menyebabkan deformitas atau kelainan bentuk pada tubuh.
  • Perawatan: Fisura biasanya membutuhkan perawatan yang lebih sedikit dibandingkan fraktura. Pengobatan bisa melibatkan istirahat, penggunaan penyangga atau gips ringan untuk mencegah gerakan berlebih, dan pemberian obat pereda nyeri. Fisura biasanya sembuh dengan lebih cepat daripada fraktura.

8. Osteomielitis

  • Pengertian: Osteomielitis adalah infeksi tulang yang disebabkan oleh bakteri atau jamur.
  • Penyebab: Infeksi yang menyebar melalui aliran darah atau luka terbuka yang mengenai tulang.
  • Dampak: Nyeri, demam, dan peradangan pada tulang, yang dapat merusak jaringan tulang jika tidak segera diobati.

9. Hernia Nukleus Pulposus (HNP)

  • Pengertian: HNP adalah kondisi di mana cakram tulang belakang (diskus) menonjol dan menekan saraf.
  • Penyebab: Cedera, penuaan, atau tekanan berlebih pada tulang belakang.
  • Dampak: Nyeri punggung bawah, nyeri yang menjalar ke kaki, dan gangguan mobilitas.

10. Akondroplasia

  • Pengertian: Akondroplasia adalah kelainan genetik yang menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang panjang, sehingga menghasilkan perawakan pendek (dwarfisme).
  • Penyebab: Mutasi genetik.
  • Dampak: Tubuh pendek dengan lengan dan kaki yang lebih pendek dari normal.

11. Osteogenesis Imperfecta

  • Pengertian: Osteogenesis imperfecta adalah penyakit genetik yang menyebabkan tulang mudah patah karena kurangnya kolagen.
  • Penyebab: Mutasi genetik yang memengaruhi produksi kolagen.
  • Dampak: Patah tulang yang sering, gangguan pertumbuhan, dan deformitas tulang.

12. Gout (Asam Urat)

  • Pengertian: Gout adalah bentuk artritis yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat di persendian.
  • Penyebab: Kadar asam urat yang tinggi dalam darah, biasanya akibat diet tinggi purin atau gangguan metabolisme.
  • Dampak: Nyeri hebat dan peradangan di persendian, terutama pada sendi jempol kaki.

Gangguan-gangguan ini dapat memengaruhi kenyamanan, mobilitas, dan kualitas hidup seseorang, dan beberapa di antaranya dapat dicegah atau diatasi dengan gaya hidup sehat, latihan, serta perawatan medis yang tepat



OTOT

Otot pada manusia berperan sebagai alat gerak aktif

Sifat Otot :

Kontraktibilitas: otot menjadi lebih pendek dari ukuran semula

Ekstensibilitas: otot berelaksasi atau memanjang dari ukuran semula

Elastisitas : otot dapat kembali pada ukuran semula setelah berkontraksi atau ekstensi


Otot manusia dibedakan menjjadi  :

1. Otot Lurik (Otot Rangka)

  • Pengertian: Otot lurik, atau disebut juga otot rangka, adalah otot yang melekat pada tulang-tulang rangka dan memungkinkan pergerakan tubuh.
  • Ciri-ciri:
    • Memiliki serat otot yang tampak teratur dengan garis-garis melintang (lurik), sehingga disebut lurik.
    • Volunter: Dapat dikendalikan secara sadar melalui sistem saraf somatik.
    • Bersifat merah, karena memiliki banyak mitokondria untuk produksi energi.
    • Tersusun secara **bersifat multinuklear (memiliki lebih dari satu inti sel).
  • Fungsi: Menggerakkan tubuh, mempertahankan postur tubuh, serta melakukan pergerakan sukarela (seperti berjalan, berlari, mengangkat barang, dll).
  • Contoh: Otot biceps (otot lengan), otot quadriceps (otot paha), otot deltoid (otot pundak).

2. Otot Polos

  • Pengertian: Otot polos adalah otot yang ditemukan di dinding organ tubuh internal (misalnya lambung, usus, pembuluh darah) dan berfungsi menggerakkan organ-organ tersebut secara otomatis.
  • Ciri-ciri:
    • Tidak memiliki garis-garis lurik (tidak tampak teratur seperti pada otot lurik).
    • Involunter: Tidak dapat dikendalikan secara sadar, melainkan dikendalikan oleh sistem saraf otonom (autonomik).
    • Sel otot polos memiliki satu inti sel di tengah.
    • Bersifat lambat dan terus-menerus dalam berkontraksi (berbeda dengan otot lurik yang berkontraksi lebih cepat).
  • Fungsi: Menyebabkan pergerakan pada organ dalam tubuh seperti pergerakan makanan dalam saluran pencernaan, pengaturan diameter pembuluh darah, dan kontraksi rahim.
  • Contoh: Otot pada dinding pembuluh darah, dinding usus, kandung kemih, dan rahim.

3. Otot Jantung

  • Pengertian: Otot jantung adalah jenis otot yang ditemukan di dinding jantung dan bertanggung jawab untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
  • Ciri-ciri:
    • Memiliki garis-garis lurik seperti otot lurik, tetapi sel-sel otot jantung bersifat bercabang dan saling terhubung melalui sambungan khusus yang disebut intercalated discs.
    • Involunter: Otot ini bekerja secara otomatis, dikendalikan oleh sistem saraf otonom dan sistem pacu jantung (nodus sinoatrial).
    • Otot jantung juga memiliki satu atau dua inti sel yang terletak di tengah sel.
  • Fungsi: Memompa darah ke seluruh tubuh melalui kontraksi jantung yang terus-menerus tanpa henti.
  • Contoh: Otot yang terdapat pada jantung.
Gambar macam macam otot


Kontraksi dan Reaksasi Otot

1. Mekanisme Kontraksi Otot

Kontraksi otot adalah proses di mana otot mengencang dan memendek. Ini terjadi melalui interaksi antara filamen protein aktin dan miosin yang disebabkan oleh perubahan dalam sel otot. Proses ini dikenal dengan teori sliding filament.

Langkah-langkah Kontraksi Otot:

  1. Stimulasi Saraf:

    • Kontraksi otot dimulai ketika impuls listrik (potensial aksi) datang dari sistem saraf.
    • Impuls ini mencapai neuromuscular junction (sambungan saraf-otot), di mana asetilkolin (ACh) dilepaskan dari ujung saraf ke ruang sinaps, yang merangsang sarcolemma (membran sel otot) untuk menghasilkan potensial aksi.
  2. Depolarisasi dan Perambatan Potensial Aksi:

    • Potensial aksi yang terbentuk merambat melalui sarcolemma dan masuk ke dalam tubulus T, yang merupakan saluran kecil di dalam sel otot.
    • Ini menyebabkan depolarisasi pada bagian dalam sel dan memicu pelepasan ion kalsium (Ca²⁺) dari retikulum sarkoplasma ke dalam sitoplasma otot.
  3. Pelepasan Ion Kalsium:

    • Ion kalsium yang dilepaskan mengikat protein troponin yang ada pada filamen aktin.
    • Ikatan kalsium pada troponin menyebabkan perubahan bentuk pada troponin dan menggeser tropomiosin, protein lain yang menutupi situs pengikatan pada aktin.
    • Setelah tropomiosin bergeser, situs pengikatan miosin pada aktin menjadi terbuka.
  4. Pengikatan Miosin ke Aktin dan Power Stroke:

    • Kepala miosin, yang telah terikat dengan ADP dan fosfat anorganik (Pi), kini dapat menempel pada situs pengikatan aktin.
    • Ketika kepala miosin mengikat aktin, power stroke terjadi, yaitu kepala miosin menarik filamen aktin menuju pusat sarkomer. Ini menyebabkan pemendekan sarkomer, dan dengan demikian otot mengencang.
    • Selama power stroke, ADP dan Pi dilepaskan dari kepala miosin.
  5. Pengikatan ATP dan Pelepasan Kepala Miosin:

    • Molekul ATP kemudian mengikat kepala miosin, menyebabkan kepala miosin terlepas dari aktin.
    • Setelah ATP terikat, kepala miosin kembali ke posisi semula dalam proses yang disebut cocking of the myosin head (penarikan kepala miosin).
  6. Pengulangan Proses:

    • Jika ion kalsium masih ada di dalam sel dan ATP tersedia, proses pengikatan miosin-aktin dan power stroke akan berulang, menarik filamen aktin lebih jauh ke dalam, sehingga otot terus berkontraksi.

Akhir Kontraksi:

  • Proses kontraksi berlanjut selama ada rangsangan saraf dan kalsium yang tersedia. Otot tetap dalam keadaan terkondisi dan terkontraksi selama stimulasinya berlanjut.

2. Mekanisme Relaksasi Otot

Setelah kontraksi otot, otot harus kembali dalam keadaan relaksasi, di mana otot memanjang dan kembali ke panjang semula. Proses relaksasi ini melibatkan penghapusan ion kalsium dari sitoplasma dan pengembalian troponin ke keadaan semula.

Langkah-langkah Relaksasi Otot:

  1. Hentinya Stimulasi Saraf:

    • Setelah impuls saraf berhenti, asetilkolin yang ada di neuromuscular junction dihancurkan oleh enzim acetylcholinesterase, sehingga tidak ada lagi rangsangan yang diterima oleh otot.
    • Tanpa rangsangan saraf, tidak ada lagi potensial aksi yang terjadi di sarcolemma.
  2. Pompaan Kalsium Kembali ke Retikulum Sarkoplasma:

    • Ion kalsium (Ca²⁺) yang ada dalam sitoplasma otot dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma oleh pompa Ca²⁺ ATPase.
    • Ketika kalsium kembali ke retikulum sarkoplasma, konsentrasi kalsium di dalam sitoplasma berkurang.
  3. Troponin dan Tropomiosin Kembali ke Posisi Semula:

    • Saat kalsium tidak lagi terikat pada troponin, troponin kembali ke posisi semula dan menghalangi situs pengikatan pada aktin dengan menggunakan tropomiosin.
    • Ini menyebabkan filamen aktin dan miosin tidak dapat lagi saling berinteraksi, sehingga kontraksi otot berhenti.
  4. Otot Relaksasi:

    • Tanpa interaksi antara aktin dan miosin, filamen aktin kembali ke posisi semula, dan otot kembali memanjang, menghasilkan relaksasi otot.
    • Proses relaksasi ini juga memerlukan energi ATP, meskipun tidak sebanyak saat kontraksi.






Jenis-jenis Gerakan Otot Berdasarkan Fungsinya

  1. Gerakan Agonis (Prime Movers):

    • Pengertian: Otot yang berfungsi untuk menghasilkan gerakan utama pada sendi.
    • Contoh: Otot biceps brachii saat melakukan fleksi pada sendi siku.
  2. Gerakan Antagonis:

    • Pengertian: Otot yang berfungsi berlawanan dengan otot agonis untuk menyeimbangkan atau mengontrol gerakan.
    • Contoh: Otot triceps brachii berfungsi sebagai otot antagonis saat otot biceps berkontraksi untuk fleksi siku.
  3. Gerakan Synergis:

    • Pengertian: Otot-otot yang bekerja sama untuk menghasilkan gerakan yang lebih halus dan efisien.
    • Contoh: Otot-otot yang membantu otot utama (agonis) dalam melakukan gerakan yang kompleks, seperti otot brachioradialis yang membantu biceps brachii dalam melakukan fleksi siku.
  4. Gerakan Fixator:

    • Pengertian: Otot yang menjaga kestabilan atau posisi bagian tubuh tertentu saat otot lain bergerak.
    • Contoh: Otot rotator cuff pada bahu yang menstabilkan sendi bahu saat otot lengan melakukan gerakan.

Macam-Macam Gerakan Otot pada Sendi

Otot menghasilkan berbagai gerakan pada sendi yang memungkinkan tubuh untuk melakukan aktivitas. Berikut adalah beberapa jenis gerakan yang dihasilkan oleh otot pada sendi tubuh:

  1. Fleksi:

    • Pengertian: Gerakan yang mengurangi sudut antara dua tulang atau bagian tubuh yang berhubungan di suatu sendi.
    • Contoh: Fleksi siku (menekuk lengan).
  2. Ekstensi:

    • Pengertian: Gerakan yang memperbesar sudut antara dua tulang atau bagian tubuh di suatu sendi.
    • Contoh: Ekstensi siku (meluruskan lengan).
  3. Abduksi:

    • Pengertian: Gerakan menjauhkan suatu bagian tubuh dari garis tengah tubuh.
    • Contoh: Mengangkat tangan ke samping (abduksi lengan).
  4. Adduksi:

    • Pengertian: Gerakan mendekatkan suatu bagian tubuh ke garis tengah tubuh.
    • Contoh: Menurunkan lengan dari posisi abduksi (adduksi lengan).
  5. Rotasi:

    • Pengertian: Gerakan memutar suatu bagian tubuh di sekitar sumbu tubuhnya.
    • Contoh: Rotasi kepala untuk melihat ke kiri atau ke kanan.
  6. Sirkumduksi:

    • Pengertian: Gerakan melingkar suatu bagian tubuh, yang merupakan kombinasi dari fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi.
    • Contoh: Gerakan melingkar pada bahu atau pinggul (misalnya saat melambai).
  7. Pronasi:

    • Pengertian: Gerakan memutar tangan atau kaki ke posisi telapak menghadap ke bawah.
    • Contoh: Memutar tangan sehingga telapak tangan menghadap ke bawah.
  8. Supinasi:

    • Pengertian: Gerakan memutar tangan atau kaki ke posisi telapak menghadap ke atas.
    • Contoh: Memutar tangan sehingga telapak tangan menghadap ke atas.

Kelainan pada Otot

1. Distorsi Otot (Strain)

  • Definisi: Cedera pada otot atau tendon akibat peregangan atau penarikan yang berlebihan.
  • Penyebab: Aktivitas fisik yang berlebihan, gerakan yang tiba-tiba, atau overuse (penggunaan berulang).
  • Gejala: Nyeri, pembengkakan, kelemahan, dan keterbatasan gerakan pada otot yang terlibat.
  • Penanganan: Istirahat, kompres es, penggunaan pembalut elastis, dan terapi fisik.

2. Kram Otot

  • Definisi: Kontraksi otot yang tidak terkontrol dan menyakitkan, biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit.
  • Penyebab: Dehidrasi, kekurangan elektrolit (seperti kalium atau magnesium), kelelahan otot, atau penurunan aliran darah ke otot.
  • Gejala: Nyeri hebat dan otot terasa kencang atau keras.
  • Penanganan: Meregangkan otot yang terlibat, mengompres dengan es, dan menjaga hidrasi yang cukup.

3. Penyakit Otot Distrofi (Muscular Dystrophy)

  • Definisi: Kelompok penyakit genetik yang menyebabkan degenerasi dan kelemahan otot progresif.
  • Penyebab: Mutasi gen yang mengkode protein yang diperlukan untuk mempertahankan integritas otot.
  • Gejala: Kelemahan otot yang memburuk seiring waktu, kesulitan berjalan, kesulitan bernapas, dan kesulitan melakukan gerakan tubuh.
  • Penanganan: Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan, tetapi terapi fisik, obat-obatan, dan alat bantu pernapasan dapat membantu memperlambat progresi.

4. Myositis

  • Definisi: Peradangan pada otot yang disebabkan oleh infeksi, penyakit autoimun, atau cedera.
  • Penyebab: Infeksi virus atau bakteri, atau kondisi autoimun seperti dermatomyositis dan polymyositis.
  • Gejala: Nyeri otot, kelemahan otot, dan peradangan (merah atau bengkak) pada area yang terinfeksi.
  • Penanganan: Pengobatan dengan obat antiinflamasi, kortikosteroid, dan terkadang antibiotik atau antivirus, tergantung pada penyebabnya.

5. Fibromyalgia

  • Definisi: Suatu gangguan yang menyebabkan nyeri otot kronis dan titik-titik nyeri yang sensitif di tubuh.
  • Penyebab: Penyebab pasti belum diketahui, tetapi dapat dipicu oleh stres, infeksi, atau cedera fisik.
  • Gejala: Nyeri otot yang menyebar, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi.
  • Penanganan: Pengobatan dengan obat anti nyeri, terapi fisik, dan teknik manajemen stres.

6. Tetani Otot (Tetanus)

  • Definisi: Infeksi bakteri yang menyebabkan kekakuan otot dan kejang otot yang menyakitkan.
  • Penyebab: Infeksi oleh Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh melalui luka terbuka atau luka tusuk.
  • Gejala: Kekakuan otot, kejang otot, dan kesulitan bernapas yang dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati.
  • Penanganan: Pengobatan dengan antibiotik dan imunoglobulin tetanus, serta dukungan medis intensif untuk mengontrol kejang.

7. Spasme Otot

  • Definisi: Kontraksi otot yang tidak terkontrol yang bisa berlangsung selama beberapa detik atau menit, serupa dengan kram otot, tetapi dapat terjadi tanpa rasa sakit.
  • Penyebab: Overuse, ketegangan otot, atau dehidrasi.
  • Gejala: Otot terasa tegang, terkadang diikuti rasa sakit setelahnya.
  • Penanganan: Peregangan otot, pemanasan otot sebelum beraktivitas, serta hidrasi yang cukup.

8. Atrofi Otot

  • Definisi: Penyusutan ukuran atau volume otot karena tidak digunakan atau akibat penyakit.
  • Penyebab: Kurangnya aktivitas fisik, cedera yang membatasi gerakan, atau penyakit tertentu seperti penyakit saraf atau stroke.
  • Gejala: Penurunan massa otot dan kekuatan otot.
  • Penanganan: Latihan fisik atau terapi fisik untuk mengembalikan fungsi otot, serta diet yang baik untuk mendukung kesehatan otot.

9. Otot Kaku (Rigor)

  • Definisi: Kekakuan otot yang terjadi setelah kematian (rigor mortis) atau pada beberapa kondisi medis tertentu.
  • Penyebab: Rigor mortis terjadi setelah kematian karena perubahan kimia dalam otot. Pada penyakit tertentu, bisa juga terjadi kekakuan otot sebagai gejala.
  • Gejala: Otot terasa kaku dan tidak dapat digerakkan.
  • Penanganan: Tidak diperlukan penanganan medis untuk rigor mortis, tetapi dalam kasus lain, pengobatan penyakit yang mendasarinya diperlukan.

10. Otot Polio (Poliomielitis)

  • Definisi: Penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan otot.
  • Penyebab: Infeksi virus polio yang menyerang saraf motorik.
  • Gejala: Kelemahan otot, kelumpuhan otot, dan deformitas pada tubuh.
  • Penanganan: Pengobatan untuk mencegah komplikasi, rehabilitasi fisik, dan vaksinasi untuk pencegahan.

11. Cramps (Kram Otot) pada Kehamilan

  • Definisi: Kram otot yang terjadi pada ibu hamil, biasanya terjadi di kaki.
  • Penyebab: Perubahan hormonal, tekanan pada pembuluh darah, atau kekurangan elektrolit.
  • Gejala: Kram mendalam yang biasanya terjadi di malam hari.
  • Penanganan: Peregangan ringan, hidrasi yang cukup, dan penyesuaian posisi tidur



Sumber : https://www.gramedia.com/literasi/sistem-rangka-pada-manusia/#google_vig
nette

Chat GBT


DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN

Lingkungan : Merupa  Kesatuan ruang dengan semua benda, daya dan keadaan mahluk hidup termasuk perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan ...